Beranda > Berita Terkini > Besar-Kecil Peluang Australia-Jepang (Final Asian CUp 2011)

Besar-Kecil Peluang Australia-Jepang (Final Asian CUp 2011)


Kebesaran pemain Australia ditantang kekecilan Jepang, Sabtu (29/1/2011). Tajuknya, final Asian Cup Qatar 2011. Urusan “besar-kecil” itu soal ukuran tubuh. Para pemain asal Negeri Kanguru, yang rata-rata berpostur seperti raksasa, coba ditandingi kekerdilan awak kesebelasan dari Negeri Matahari Terbit.
Kalau mau cari sensasi, bolehlah pertarungan ini disebut mirip dengan Gulliver versus Liliput atau David lawan Goliath. Tapi, lazimnya, sensasi tidak pernah mencapai esensi.

Pasti tontonan akan monoton bila teori sepakbola dijiplak mentah-mentah sebagai strategi untuk mengalahkan lawan. Sebab si kecil-kecil pemain Jepang terus-terusan akan dipaksa meloncat karena kemungkinan besar Sasa Ognenovski cs memainkan bola-bola lambung. Sedangkan si besar Aussie dipaksa terus-menerus berlari karena Yasuhito Endo meracik umpan-umpan pendek yang meluncur cepat. Siapa yang capai dan letih duluan akibat meloncat-loncat atau berlari-lari tak tentu arah, lalu gagal menjaga keseimbangan selama 2×45 menit, timnya pasti kalah. Itu teorinya, kawan.

Di tengah rumput hijau Kalifah International Stadium, Doha, Qatar, adu taktik sepanjang 90 menit belum tentu sesuai dengan teori. Apalagi ditambah perpanjangan waktu 2×15 menit, diakhiri adu tendangan penalti.

Sepakbola bukan permainan mengandalkan otot belaka. Sinkronisasi gerakan antara sebelas pemain dalam satu kesebelasan secara harmonis menjaga aliran bola di areal seluas lebih satu hektar akan jadi mobilitas kemenangan.

Makoto Hasebe dkk pasti tidak didera rasa inferior menghadapi Mark Schwarzer cs. Laga final ini menentukan juara Asia 2011. Kebanggaan dari rasa kebangsaan tentu berperan besar di dalamnya.

Tim Nippon menurut rekornya belum pernah kalah sebelum bertanding. Mereka seperti tak kenal lelah mengusung semangat Bushido saat menghunus pedang Samurai Biru. Kali ini, Socceroos dari Negeri Kanguru yang lincah harus disembelihnya sekali sabet. Semifinal yang melelahkan lawan Korea Selatan telah dijalani Jepang di Qatar seperti ulangan semifinal empat tahun silam di Palembang. Laga harus disudahi dengan adu tendang bola dari titik 12 pas.

Di pihak lain, Australia sukses besar membungkam Uzbekistan lewat setengah lusin gol. Laga yang telak tanpa balas. Walau terkesan mereka berlari kaku lantaran topangan postur besarnya membuat liukan pinggang jadi tidak luwes, Harry Kewell dan kompatriotnya membuktikan teknik olah bola mumpuni.

Permainan yang diperagakan tampak efektif tanpa banyak penguasaan. Yang penting bila ada peluang, maka konversinya harus maksimal. Tak heran, Ulugbek Bakaev cs di semifinal harus membayar mahal: Uzbek menguasai bola lebih banyak tapi gawangnya dihajar sampai 6 gol.

Di sela mimpi indah membuai tidurnya sepakbola nasional, petikan berharga dari final Asian Cup 2011 adalah satu hal: orang Jepang dulu pada medio 80-an mempelajari sepakbola melalui studi banding serius tentang pengelolaan liga sepakbola bernama Galatama. Setelah cukup satu dekade proses belajar, hingga kini mereka panen prestasi. Australia belajar lebih keras: mengekspor pemain asing, menaturalisasi beberapa di antaranya, bahkan bintang nasional kita Iswadi Idris pernah turut pula berkiprah di sana.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: