Beranda > Sport > Sepak Bola, Antara Kenikmatan dan Keperihan

Sepak Bola, Antara Kenikmatan dan Keperihan


Munculnya Liga Primer Indonesia (LPI) dalam kompetisi sepak bola menjanjikan harapan baru. LPI, yang menjadi sebuah kompetitor anyar bagi PSSI, diharapkan membawa dampak positif baik bagi PSSI sendiri (karena harus memperbaiki dirinya) dan, terutama, bagi prestasi sepak bola kita di masa mendatang.

“Persaingan” baru antara PSSI dan LPI itu merupakan “kompetisi” menyangkut kompetisi sepak bola di tataran dunia nyata. Di dunia layar kaca (televisi), kompetisi sepak bola juga mendapat tempat yang sangat spesial. Belum ada olahraga lain yang mampu menyedot perhatian lebih televisi di dunia dibandingkan dengan laga sepak bola. Maka, bisa dipastikan, bakal ada lebih banyak kamera televisi menyorot berbagai pertandingan, baik dalam wadah LPI maupun PSSI.

Sejarah membuktikan bahwa sejak laga final Piala Dunia antara Inggris dan Jerman pada 1966, pertandingan sepak bola di dunia berhasil menjadi hiburan menarik bagi miliaran orang di depan televisi. Siaran Piala Dunia, misalnya, berhasil menyihir lebih dari 2 miliar penonton TV di bumi.
Kita tidak tahu berapa juta penonton kompetisi LPI dan final Piala AFF pada 29 Desember tahun lalu. Tapi mungkin sekali rating-nya bisa mengalahkan berbagai sinetron favorit, yang kebanyakan tidak mendidik dan sama sekali tidak membumi.

Bukan hanya sepak bola sebenarnya. Sembilan dari 15 program paling banyak ditonton sepanjang sejarah di AS adalah peristiwa olahraga (sporting event), dan sejak 2000 sporting event berada di ranking pertama “top-10 show” yang paling banyak ditonton.

Meski TV menyediakan berbagai acara, seperti komedi, berita, dan reality program, toh, siaran langsung olahraga merupakan satu-satunya acara yang benar-benar hidup (life). Sporting event kini tidak lagi sekadar refleksi realitas dari permainan di stadion, tapi berhasil menggandeng TV untuk mentransformasi “bagaimana seharusnya kita memahami olahraga dan bereaksi terhadapnya”. Sebaliknya, olahraga jadi kian penting bagi televisi karena hubungannya dengan fulus iklan, mengisi jam tayang (airtime), dan, lebih dari itu semua, karena ia sangat populer.

Tapi mengapa orang begitu tertarik menonton sporting event di televisi? Motivasi utamanya adalah kenikmatan (enjoyment), yakni kesenangan yang diperoleh ketika mengkonsumsi hiburan yang disajikan TV. Enjoyment itu muncul sebagai respons utama kepada TV, melalui aktivasi neurotransmitter di area limbic otak penonton yang berkaitan dengan kesenangan (pleasure) dan “sakit” atau “nyeri” (pain). Otak pemirsa menyimpulkan apakah ia akan merasakan pleasure atau pain, bergantung pada interaksi antara diri sang penonton, pesan yang diterima (dari tontonannya), dan variabel-variabel yang ada di sekitarnya (teman sesama suporter, lokasi tempat menonton, dan sebagainya).

Keterikatan sesama suporter atau fan (fandom) terbukti penting artinya, karena penonton bisa “bersorak bersama dalam kemenangan”, tapi sekaligus meluapkan fungsi katarsis bersama sehingga semuanya “siap kalah” dalam pertandingan. Rupanya ikatan simpati antara penggemar dan atlet itu memang sangat penting artinya, khususnya setelah tim yang didukung menang ketimbang kalau tim itu kalah. Pasalnya, antara lain, penggemar merujuk timnya sebagai “kita”. Kalau tim menang, berarti kita yang menang. Dan sebaliknya. Tim yang dirujuk sebagai “kita” itu menunjukkan sebuah basking effect, salah satu praktek yang menjelaskan teori “identitas sosial”, sehingga kelompok yang sukses akan ikut membangun citra-diri positif.

Yang menarik, ada yang menghubungkan fandom dengan “teori manajemen teror”, karena pengidentifikasian dengan tim yang menang berhasil meningkatkan derajat harga-diri yang berfungsi sebagai tameng melawan ketakutan terhadap kematian. Tapi banyak ahli psikologi komunikasi belum bisa mengerti mengapa kebanyakan committed fan jarang sekali mengganti kesetiaan mereka hanya gara-gara timnya kalah. Yang jelas, relasi yang didapat dari menonton TV bersama lebih tinggi ketimbang yang menontonnya sendirian.
Para <I>fan<I> penonton TV itu mengalami proses enjoyment karena adanya keberpihakan afektif, yang berpangkal dari “keterikatan emosional yang intensif” terhadap atlet dan timnya. Afiliasi pemirsa terhadap tim itu bervariasi. Makin cinta kepada “tim kita”, makin tinggi kenikmatannya. Begitu pula, kenikmatan ikut meningkat bila kita makin benci terhadap yang kalah. Artinya, makin tinggi cinta penonton kepada tim Garuda, maka ketika ia menang, makin tinggi pula enjoyment yang diperoleh. Sebaliknya, kenikmatan makin menurun ketika yang menang adalah tim yang paling dibenci, atau yang kalah merupakan tim yang paling tinggi derajat “disenanginya”.

Sejalan dengan itu, kenikmatan maksimal dialami ketika tim paling disukai mengalahkan tim paling dibenci. Sebaliknya, kekecewaan paling menyedihkan (negative enjoyment) juga terjadi saat pesaing yang paling Anda benci mengalahkan tim yang paling Anda cintai. Kalau saja Indonesia kalah oleh Thailand di Piala AFF, umpamanya, kesedihan itu tidak akan sebesar kekalahan oleh Malaysia.

Memang menang atau kalah adalah soal biasa dalam pertandingan. Tapi, sesungguhnya, justru di situlah salah satu kunci kenikmatannya karena persaingan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan konflik dan kompetisi, dua hal yang menjadikan pertandingan olahraga sebagai drama yang menegangkan. Nah, kenikmatan rupanya meningkat sejalan dengan seberapa dramatisnya pertandingan. Bila nanti pertandingan-pertandingan dalam LPI lebih dramatis kejadiannya (yang secara inti dialami sebagai ketegangan–suspense–oleh pemirsa) ketimbang laga-laga di PSSI, umpamanya, makin besarlah potensi kenikmatan yang kita rasakan.
Semua itu, ditambah dengan ketegangan pada level pertandingan (makin dekat ke final, suspense pun kian tinggi) dan tingkat kekerasan atau “bahaya” dalam berbagai laga itu, akan menentukan apakah menonton kompetisi LPI di TV bakal menjadi hiburan yang memberi enjoyment puncak bagi para penggemarnya.

sumber : http://www.tempointeraktif.com/

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: